Saya Kena Penyakit “Syaraf Kejepit”, Apa itu?

Apa Yang Dimaksud Dengan Penyakit Syaraf Kejepit?

Syaraf Kejepit atau lebih tepatnya HNP atau Hernia Nukleus Pulposus adalah gangguan yang terjadi akibat adanya penonjolan (hernia) bantalan (nucleus pulposus) di cakram antar ruas tulang belakang (diskus). Akibat HNP adalah dapat terjadi penekanan/penjepitan saraf dengan segala konsekuensinya. HNP terutama terjadi pada usia 30 – 45 tahun, lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan (2 : 1).

Bagaimana Proses Terjadinya HNP (Hernia Nukleus Pulposus)?

 

HNP-Hernia-Nukleus-Pulposus-300x225 HNP-Hernia-Nukleus-Pulposus-2-300x225

Tulang belakang (columna vertebra) terdiri dari sederet ruas tulang (vertebra) yaitu tulang leher (cervical), tulang punggung (thoracal), tulang pinggang (lumbal), tulang bokong (sacral) dan tulang ekor (coccygeus). Tulang-tulang tersebut (kecuali tulang sacral), dipisahkan oleh cakram (diskus). Didalam cakram terdapat bantalan yang lentur (nucleus pulposus). Nucleus pulposus diselubungi oleh cincin serat jaringan yang kuat yang disebut annulus fibrosus. Cakram berfungsi sebagai penyerap goncangan (shock absorber) dan berperan penting dalam kelenturan pergerakan tulang belakang, antara lain untuk memutar, menunduk, menengadah dan sebagainya. Didalam tulang belakang terdapat saluran yang berisi sumsum tulang belakang (medulla spinalis) yaitu sistem saraf yang menghubungan otak dengan organ-organ tubuh dibawah. Sumsum tulang belakang terletak di belakang cakram.

Bila cakram melemah, ada risiko terjadi robekan pada anulus fibrosus, akibatnya bantalan/nucleus pulposus dapat menonjol sehingga berpotensi menekan/menjepit sumsum tulang belakang dan/atau saraf di sekitarnya. Keadaan ini yang dikenal sebagai HNP.

Apa Penyebab HNP (Hernia Nukleus Pulposus)?

Penyebab HNP yang pasti masih belum diketahui. HNP umumnya terjadi akibat cedera yang merobek annulus fibrosus, antara lain :

  1. Stres fisik akibat angkat beban berat dalam posisi membungkuk
  2. Jatuh pd posisi membungkuk

Apakah Faktor Risiko Terjadi HNP (Hernia Nukleus Pulposus)?

Beberapa faktor yang berperan memicu terjadinya HNP ialah :

  1. Genetik.
  2. Usia, dengan bertambahnya usia komposis cakram menjadi kurang lentur.
  3. Pekerjaan terutama yang perlu sering angkat berat.
  4. Obesitas.
  5. Merokok.

HNP (Hernia Nukleus Pulposus) Dapat Terjadi Dimana Saja?

Walaupun HNP dapat terjadi di cakram mana saja, namun secara statistik 90 – 95 % HNP terjadi di tulang pingggang (lumbal), 6 – 8 % di tulang leher (cervical) dan 1 – 2 % di tulang punggung (thoracal).

Apakah Gejala HNP (Hernia Nukleus Pulposus)?

Tidak semua penderita HNP mengalami keluhan. Gejala HNP sangat tergantung pada lokasi, tingkat penonjolan dan keterlibatan saraf sekitar. Umumnya keluhan terjadi pada satu sisi, dan diperparah oleh batuk, bersin, angkat berat dan membungkuk.

Gejala HNP lumbal

  1. Nyeri pinggang yang menyebar ke bokong, selangkangan, tungkai.
  2. Kelemahan otot tungkai dan jari kaki.
  3. Rasa baal/kesemutan di pinggang sampai kaki.

Nyeri sering timbul pada saat membungkuk atau duduk lama dan berkurang bila berbaring pada sisi yg sehat dengan tungkai agak menekuk.

Gejala HNP cervical.

Keluhan sering timbul pada saat mengerakkan leher, yaitu :

  1. Nyeri di belakang kepala, leher, bahu, lengan dan jari tangan.
  2. Kelemahan otot bahu, lengan dan jari tangan.
  3. Rasa baal/kesemutan di leher sampai ke tangan.

Apakah Komplikasi HNP?

Komplikasi HNP yang perlu diwaspadai ialah :

  1. Sindroma Cauda equina, yaitu hernia cakram yang menekan ekor sumsum tulang belakang (cauda equina dan ditandai rasa baal di dubur dan sekitarnya , gangguan buang air besar dan berkemih).
  2. Cedera saraf permanen.
  3. Kelumpuhan.
  4. Disfungsi ereksi.
  5. Nyeri menahun.

Bagaimana Mendiagnosis HNP?

Diagnosis HNP selain mengacu pada riwayat penyakit, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik meliputi tes refleks, kekuatan otot, kemampuan jalan, fungsi sensasi. Untuk memastikan diagnosis, dokter akan menganjurkan beberapa pemeriksaan penunjang antara lain :

  1. Rofoto (Rontgen foto) tulang belakang.
  2. CT Scan dan MRI tulang belakang, untuk evaluasi letak dan ukuran cakram serta penekanan pada sumsum tulang belakang.
  3. Myelogram, untuk deteksi letak dan ukuran cakram serta penekanan pada sumsum tulang belakang.
  4. EMG (electromyografi), untuk deteksi lokasi akar saraf yang bermasalah.
  5. NCVT (nerve conduction velocity test), untuk evaluasi gangguan fungsi saraf.

Bagaimana Cara Pengelolaan HNP?

Cara pengelolaannya tergantung pada kondisi cakram, keparahan gejala dan adanya komplikasi, pengelolaan HNP dapat secara konservatif atau operatif.
Tindakan konservatif meliputi :

  • Istirahat, hindari posisi tubuh dan aktivitas yang memicu nyeri. Bila nyeri membaik, usahakan untuk secepat mungkin kembali ke aktivitas biasa.
  • Kompres dingin dan/atau panas.
  • Memakai korset.
  • Fisioterapi
  • Medikamentosa/obat-obatan :
    • Penghilang rasa nyeri / analgesik
    • Pelemas otot / muscle relaxan
    • Kortiosteroid

Bila tidak berhasil dikelola secara konservatif, sering kambuh dan timbul komplikasi maka perlu pertimbangkan tindakan operatif berikut :

  1. Microdiskectomy, yaitu tindakan membuang bagian cakram yang rusak dan menonjol.
  2. Pada kasus yang lebih serius, Laminectomy, yaitu tindakan membuang seluruh cakram dan menyatukan kedua vertebra atau diganti dengan cakram artifisial perlu dipertimbangkan.

Bagaimana Mencegah Terjadi HNP?

Langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadi HNP ialah :

  1. Olahraga teratur agar otot punggung, tungkai dan perut lebih kuat, antara lain: jalan, lari, berenang.
  2. Hindari angkat barang berat pada posisi bungkuk tetapi dengan posisi jongkok.
  3. Usahakan duduk dan berdiri pada posisi tegak.
  4. Hindari duduk terlalu lama, selingi dengan berdiri dan bergerak.
  5. Hindari kegemukan karena berat badan berlebih akan membebani cakram.
  6. Berhenti merokok.

Bagaimana Prognosis HNP?

Prognosis HNP umumnya baik. Dengan pengelolaan dini, gejala HNP umumnya akan sembuh dalam waktu 4 – 6 minggu.

Advertisements